My First Journey

Kategori my journey4 Komentar

Sena menghabiskan tujuh tahun waktu belajar di Pesantren Musthafawiyah Purbabaru. Desa Purbabaru salah satu desa kecil yang terletak di daerah Mandailing Natal. Tujuh tahun disana melingkupi tiga tahun MTs, tiga tahun Aliyah, dan satu tahun mengabdi disana. Karena memang di pesantren kami setelah tamat Aliyah itu ada sekolah lanjutan selama satu tahun sebagai penyempurnaan ilmu.

Setelah tamat dari sana, Sena sempat bekerja di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang di kota Duri selama tiga bulan. Dua bulan sena bekerja disana keluarga Sena yang semula tinggal di Riau memutuskan untuk pindah ke Medan. Sedangkan Sena masih tinggal di Duri bersama uwak Sena, walau sebenarnya sudah diajak untuk kembali ke Medan. Namun Sena menolak dengan alasan menghabiskan masa training dulu selama tiga bulan.

Tiga bulan pun berakhir juga. Dan sena memutuskan untuk ikut bersama orang tua tinggal di Medan. Alasan Sena mau ikut kembali ke Medan juga karena Sena harus kuliah. Dari kecil kami adalah keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Bagi orang tua Sena, pendidikan adalah nomor satu. Tanpa pendidikan kita tidak akan bisa jadi apa-apa kedepannya.

Oh iya, tentang pekerjaan bapak Sena sebelumnya dia adalah seorang supervisor di salah satu  perusahaan minyak besar dunia yang ada di Riau. Dia memutuskan mengundurkan diri saat sena kelas 3 MTs. Sena juga sempat disuruh pulang sewaktu di pesantren untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas nya di Riau saja. Alasannya karena bapak sudah tidak mampu untuk membiayai Sena sekolah di sana.

Singkat cerita, Sena tidak mau dan Alhamdulillah Sena bisa membiayai kebutuhan selama di pesantren secara mandiri.

Jadi sebenarnya, alasan bapak memutuskan untuk pindah ke Medan yaitu, pertama karena dia ingin masa tuanya dia tinggal di kampung halamannya, katanya. Karena bapak Sena adalah orang asli Medan. Dia lahir dan besar di Medan. Kedua, karena di Medan lebih mudah cari makan, lagi-lagi itu katanya. Karena semenjak bapak memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, kehidupan ekonomi kami mulai terguncang.

Semenjak bapak tidak berkerja lagi, biaya hidup didapat dari hasil kebun bapak. Dan kami sekeluarga juga tinggal di kebun, dimana tidak ada satu orang pun yang tinggal dikebun itu. Iya, bahkan untuk keluar bertemu khalayak ramai juga lumayan jauh.

Tapi alhamdulillah, kami suka tinggal di kebun. Dingin, angin sepoi-sepoi, bisa memancing, mengurus ternak, dll. Enak deh, pokoknya. Hidup yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Tapi kami menikmatinya.

Karena akan membeli kebun yang baru, yang lebih menghasilkan menurut bapak, kami pun pindah. Ada beberapa kali pindah sebelum akhirnya kami pindah ke Medan. Dan tempat terakhir sebelum kami ke Medan itu kami tinggal di Desa Koto Baru, tiga jam dari kota Pekanbaru. Dimana di Desa ini menyimpan begitu banyak cerita yang mengesankan, sih. Hahahhah… Nanti Sena ceritain deh apa yang mengesankan disana. Janji deh. Iyya, janji.

And, Sena berangkat ke Medan sendirian dari kota Duri malam itu.

Gimana setelah sampai ke Medan? Sena jadi kuliah? Apa kegiatan Sena selama di Medan?

See you in next my story…

4 komentar pada “My First Journey

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *