Inikah Hidupku Sekarang?

Kategori my journey0 Komentar

Ada perasaan excited karena akan tinggal di salah satu kota besar Indonesia ini. Karena selama ini kan Sena belum pernah seutuhnya tinggal di kota. Sebelumnya Sena pernah tinggal di Medan, itupun waktu Sena kecil kira-kira berumur satu tahun. Gak tau lah ya kan gimana rasanya tinggal di kota.

Udah menghayal juga gimana nanti kehidupan Sena selama di Medan. Hmm, secara tinggal di kota. Mainnya ke Mall, Kuliah juga, banyak temen, ah, pikiran udah melambung jauh sampai kesana membayangkan enaknya tinggal di kota.

Terakhir Sena ke Medan itu waktu menikahkan kakak bapak yang kedua, dan Sena saat itu kelas enam Sekolah Dasar. Sudah tujuh tahunan lebih juga tidak pernah ke Medan lagi.

*

Perjalanan dari Duri ke Medan memakan waktu sekitar dua belasan jam. Berangkat malam dan akan sampai besok pagi. Lumayan melelahkan. Apalagi Sena orangnya pemabuk kalau sudah di dalam bus. Terlebih kalau busnya kurang bersih dan tidak ada fasilitas AC nya. Hadeeuuh, terkapar deh kalau sudah sampai di rumah.

Semalaman dihabiskan tidur, muntah, tidur, dan muntah lagi. Sampai habis isi yang di dalam perut. Bahkan sampai urat perutnya tegang karena sudah tidak ada lagi yang mau dikeluarkan. Sungguh menyakitkan kalau itu. Kalah deh sakitnya putus cinta kalau udah begini.

Sekitar jam lima shubuh bus kami berhenti di rumah makan. Ah, berat rasanya tubuh ini mau digerakkan. Menggerakkan jari tangan saja rasanya gak sanggup. Sudah habis energinya terkuras karena aktifitas muntah ini. Pun, kalau Sena turun dan makan, pasti bakalan keluar lagi tuh makanan. Keputusan terakhir dan terbaik sepertinya adalah tidak turun dan makan.

Mungkin karena terlalu lelah, Sena pun tertidur juga dengan pulas. Terbangun sekitar jam delapan pagi dan Sena sudah sampai di daerah Tanjung Morawa, sekitar satu jam-an lagi untuk sampai di Kota Medan plus sama macet-macetnya. Loket bus yang Sena naiki berada di jl. Letda Sudjono yang juga tak jauh dari rumah Sena. Sena langsung menghubungi bapak untuk memberi tahu posisi sena saat ini.

 

Bapak sudah sampai lebih dulu di loket. Jadi, saat sampai Sena langsung cus balik kerumah. Gak mungkin juga langsung jalan-jalan dengan tubuh yang rasanya sudah setengah nyawa ini. Perasaan yang campur aduk karena akan bertemu tetangga-tetangga lama, teman lama dan pastinya suasana baru bagi Sena.

*

Mengendarai kereta bebek jadul bapak yang dibawanya dari Riau kami pun sampai di rumah. Dan benar saja, saat masih di depan gang pun Sena sudah melihat sekumpulan orang yang agak heboh dengan kedatangan Sena. Pada bilang,

“ih, tambah ayu aja ya makin besar, tambah cantik.”

Hanya senyum tipis jawabannya dan gak ketinggalan ucap ‘Alhamdulillah’ dalam hati. Mungkin karena  body yang sangat lemas ini sudah harus direbahkan.

*

Kami tinggal di rumah warisan dari nenek, orang tua bapak. Rumah yang dimana bapak dilahirkan dan dibesarkan. Bayangkan aja udah berapa umur rumah ini. Dan bayangkan juga gimana keadaan rumah yang hanya berdindingkan kayu ini yang juga belum pernah di renovasi.

Selama kami di Riau yang menempati rumah ini adalah kakak bapak yang nomor dua. Bapak empat bersaudara, dia anak laki-laki satu-satunya dan anak yang terakhir. Karena rumah nenek ini lumayan besar, rumahnya dibagi dua, sebelahnya lagi disewakan.

Jadi saat kami pindah ke Medan, rumah yang sebelah belum habis masa sewanya. Dan kami pun untuk sementara serumah dengan kakak bapak.

 

*

Dari pertama sampai depan rumah pun mata ini kubawa berkeliling memandang setiap sudut rumah. Hatiku bergejolak dan tak henti selalu bertanya keras dalam hati, “inikah hidupku sekarang?”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *