PEMBERONTAKAN DIMULAI #1

Kategori my journey0 Komentar

Masih ingat tempat tinggal sena terakhir sebelum di Medan? Yap, Desa Koto Baru. Yang jarak tempuhnya dari kota Pekanbaru itu sekitar tiga jam-an, lho. Di desa itu masih banyak lahan hutannya. Jadi, disana itu banyak orang yang berburu lebah untuk diambil madunya. Madunya itu dinamakan madu tualang. Karena ia biasa hinggapnya di pohon Tualang. Itu sih yang Sena tau dari bapak.

Nah, jadi saat pertama orang tua Sena tinggal di Medan, mereka berjualan madu. Dan Alhamdulillah laris manis bahkan sampai punya beberapa reseller. Namun harus berhenti karena pasokan madu disana sudah mulai habis dan kami pun lost kontak dengan agen madunya.

Setelah itu bapak Sena mulai bingung harus ngapain lagi. Dimana, kan ekonomi keluarga ini memang dimulai dari awal lagi. Sampai suatu saat dia kumpul dengan teman-teman lamanya dan bercerita apa problem yang saat ini sedang dialaminya. Ada seorang teman bapak yang mengatakan,

“eh, seingatnya dulu mamak kelen jualan pecel, kan? Kenapa gak jualan pecel aja kelen. Naik sepeda, keliling. Lumayan lho untungnya itu.”

Disitulah bapak seolah mendapatkan ilham yang luar biasa sambil bilang,

“iya, ya! Kok gak kepikiran sampek sana aku.” Kira-kira begitulah isi percakapan mereka. cerita ini juga Sena dapat dari bapak.

Sejak saat itulah, bapak mulai berdiskusi dengan mamak untuk mengeksekusinya. Dan sejak saat itu pula Sena benar-benar merasa kalau hidup yang Sena jalani sekarang kontras dari apa yang sena jalani dulu dan bahkan tak pernah terbesit sedikitpun di dalam fikiran.

“sepertinya kita memang harus jualan pecel. Karena hanya itulah satu-satunya skill  yang bapak bisa untuk cari makan saat ini.” Kata bapak. Seperti sudah tidak ada opsi lain selain harus berjualan pecel. Sena yang baru keluar dari penjara dan baru melihat dunia ini (keluar dari pesantren maksudnya) antara mau pasrah atau memberontak tapi tak punya arah. Tak punya pilihan. apalagi sena juga sangat baru tinggal di Medan.

Dulu, selama di Riau kami memang sering membuat pecel sama bapak. Dia juga sering bercerita tentang kisah masa kecilnya saat nenek kami berjualan pecel. Kami sekeluarga memang doyan sekali makan pecel. Mungkin karena sudah dikenalkan dan dibiasakan orang tua sejak kami kecil untuk makan makanan khas indonesia yang satu ini. Saat itu kami makan pecelnya dengan membeli sambel pecel kemasan yang dijual di pasar. Sambel pecel itu diproduksi dari Sidoarjo dari yang Sena baca dikemasannya.  Dan sudah pasti saat mengaduk bumbunya ada bumbu lain yang kami tambahi sendiri dirumah. Entah itu cabenya, gula ataupun garamnya, atau bahkan kencur dan bawangnya.

Bapak juga bercerita, bahwa saat dia  kecil, tepatnya saat dia duduk dibangku sekolah Dasar, dia sudah mulai disuruh untuk menumbuk bumbu pecel oleh nenek. Bapak bilang, nenek kami itu orang yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Kalau misal membantah saja apa yang disuruh oleh nenek, kayu, bahkan sampai parang pun bisa saja melayang ke tubuh kami, kata bapak. Bapak bilang, “kejamnya mamak kelen ini belum apa-apa dibanding sama nenek dulu.” Hahaha…

Nenek kami asli orang Madiun, Jawa Tengah (tau kan, kalau Pecel yang enak itu terkenal dari mana? Madiun pastinya.). Namun, bapak lahir dan besar di Medan. Itu karena nenek merantau ke Medan hingga berkeluarga di Medan. Sayangnya, nenek kami meninggal dan makamnya di negeri jiran Malaysia. Nenek merantau untuk bekerja disana, dan saat dia meninggal tidak bisa dibawa  pulang ke Indonesia karena ada hal-hal yang tidak terselesaikan dan mengharuskan nenek dikuburkan disana.

*

Salah satu tujuan bapak pindah ke Medan adalah agar anak-anaknya melanjutkan pendidikan yang lebih bagus disini. Agar membuka cakrawala, dan anak-anaknya berkembang tinggal di kota. Itu lagi-lagi kata bapak yang pernah dibilangnya sama Sena.

Saat Sena kembali ke Medan, itu sudah dekat dengan waktu pendaftaran kuliah. Bapak juga menarik Sena ke Medan karena harus melanjutkan pendidikan disini. Jadi bapak bilang,

“Sen, pendaftaran kuliah udah mulai dibuka, Sena bapak sarankan jual pecel keliling naik sepeda untuk biaya kuliah. Karena saat ini itu yang kita bisa. BAPAK ENGGAK BISA BIAYAIN KULIAH SENA. Kalau mau kuliah, ya biaya sendiri. Jangan harapkan kami membiayai kuliahmu. Sena bisa lihat kan gimana keadaan ekonomi kita sekarang?.”

Kalimat itu sungguh membuat Sena gelap. Sungguh gelap. Dalam fikiran Sena terulang-ulang kalimat “JUALAN PECEL KELILING”. Sena berusaha tenang dan mencernanya dengan baik. Dan, sungguh. Kalimat itu tidak bisa berdamai dengan diri Sena. What?!! Apa memang hanya jualan pecel dan keliling pula, yang harus dikerjakan saat ini. Sena harus cari cara lain selain jualan pecel. Harus.

“Sena gak mau jualan pecel keliling! Sena mau ngajar aja, jd guru.”

“dapat apa kau dari ngajar? Gaji guru Cuma tiga ratus ribu perbulan. Apa yang bisa kau dapat dengan uang tiga ratus ribu?! Untuk jajanmu aja kurang.” Nada bicaranya meninggi setelah jawaban perlawanan dari Sena tadi.

Sena terdiam dan sadar akan hal itu. Memang tak bisa diharap jika hanya mengandalkan menjadi seorang guru. Namun Sena akan tetap kekeuh gak mau jualan keliling. Sena yakin masih ada cara lain yang bisa membiayai kehidupan Sena, terutama untuk kuliah.

*

Keesokan harinya Sena langsung menemui teman bapak yang dia seorang guru di sebuah sekolah dasar dekat rumah. Sena pun langsung bertanya,

“buk, masih ada lowongan di tempat ibu ngajar ini?”

Namun jawabannya pun sama seperti bapak yang membuat sena down, seakan tak ada harapan untuk mengandalkan pekerjaan itu. mungkin bapak sudah cerita duluan ke temannya itu.

“Sena kan kata bapak mau kuliah ya? Saran ibu kayaknya gausah jadi guru lah nak. Kalau ngajar itu seharian, nak. Gajinya juga kecil.”

Sungguh. Pernyataan dari bapak yang juga dikuatkan oleh ibu itu membuat Sena berfikir bahwa menjadi seorang guru bukanlah solusi saat ini.

Selanjutnya, mungkin Sena akan menjalankan opsi kedua, yaitu mengikuti jejak seorang kakak senior Sena sewaktu di pesantren yang Sena sudah mendengar kesuksesannya telah traveling sampai ke luar negeri, gratis. Sena juga sudah mulai kepoin media sosialnya saat sudah tamat dari pesantren (iyalah. Kan selama di pondok gak boleh pake handphone, hihi.) dan menyaksikan kebenaran gosip panas selama di asrama itu.

Kakak itu berkuliah di IAIN SU atau sekarang sudah naik pangkat menjadi UIN SU, yang berarti saat ini dia juga berada di Medan. Sejak Sena bekerja di Duri, Sena juga sudah mulai chattingan sama kakak itu. Kami juga sudah janjian kalau Sena sampai di Medan untuk ketemuan. Sena pengen sharing-sharing dengannya, pengen tau kisah kesuksesannya dan juga pengen tau apa sih yang dia kerjakan sampai bisa sesukses itu. Mungkin sena akan ikutin jejaknya. Sena bener-bener excited untuk bertemu dengannya. So excited lah pokoknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *